Minggu, 26 Juli 2020
Parotia barat adalah endemik asli dari pegunungan barat di Papua Nugini. Burung ini tidaklah memiliki warna secerah burung cendarawasih seperti lainnya. Namun, burung adalah jenis burung surga atau 'Paradisaidae' yang paling lucu. Parotia jantan memiliki tarian dengan ciri khas yang unik, yakni merunduk sebelum berdansa layaknya kesatria yang sedang menyembah sang raja. Burung ini juga memiliki tarian dengan gerakan andalah, yaitu tarian balerina.
Saat burung ini menghempaskan bulunya, maka ia akan terlihat seperti sedang membentangkan rok yang ada pada tubuhnya. Ketika burung ini melakukan gerakan itu, burung ini akan mengocok enam bulu yang terdapat di kepalanya yang terlihat seperti kawat secara bolak-balik. Burung pejantan akan menari untuk menarik si betina, berbagai atraksi tarian akan ditampilkan oleh burung pejantan di mana anda tidak mungkin akan bisa melupakannya.
Sudah banyak orang-orang dari luar Papua yang datang ke Warmare untuk melihat berbagai jenis burung cendrawasih, atau yang biasa jenis burung surga. Bahkan beberapa dari orang itu ada yang berasal dari luar negeri. Banyak warga di Kampung Minggrei menjadi pemandu untuk tamu-tamu tersebut. Salah satu dari tamu itu adalah Tim Laman yang merupakan seorang wildlife photographer terkenal dan sudah mendunia. Tim datang bersama Ed Scholes yang merupakan seorang peneliti burung dari Cornell Lab of Ornithology yang berlokasi di Amerika.
Mereka telah mengunjungi tempat ini dua kali dua kali, mereka biasanya akan tinggal selama 2 sampai 3 minggu dalam sekali kunjungan. Bagi mereka, burung yang terdapat di hutan Papua begitu spesial jika dibandingkan dengan burung yang ada di hutan-hutan Indonesia lainnya karena burung Parotia hanya bisa dijumpai di hutan Papua saja, tidak di tempat lain. Selama hutan masih ada, maka burung-burung tersebut tidak akan menghilang dan para tamu dan peneliti akan terus datang untuk melihat keindahan alam di sana. Aren Mandacan yang merupakan seorang kepala di kampung Minggrei menyadari keunikan dari kekayaan alam di tempat tinggalnya meminta warganya untuk selalu melindung burung-burung itu dan melarang untuk menebang pohon yang ada di kampungnya.
Aren mengenalkan potensi yang ada di kampungnya kepada seorang pemilik Macnificus Expedition dan Founder Papua Bird Club, Shita Prativi. Shita belajar dari suaminya yang kini telah meninggal untuk memandu para tamu yang ingin bertualang di Papua, almarhum suaminya telah menjadi pemandu semenjak tahun 1992. Dari penjelasan Shita, pengamatan burung di kawasan itu mulai ramai pada 2007 setelah keragaman burung-burung yang ada di Papua dipublikasikan, banyak tamu yang mendapakan impresi yang baik selama berkunjung ke sana. Dalam sekali kunjungan dengan jumlah tamu sekitar delapan orang akan tinggal di kampung Manggrei selama lima hari, masyarakat di kampung biasanya akan mendapatkan uang sekitar 20 hingga 30 juta.
Selama warga kampung menjaga kekayaan alamnya, banyak keuntungan yang bisa didapatkan warga kampung Minggrei. Bahkan, mereka akan mendapatkan keuntungan itu untuk jangka waktu yang lama selama kekayaan alam itu dijaga dengan baik. Edh Scholes begitu kagum dengan usaha yang telah dilakukan oleh warga kampung Minggrei, dia berharap jika kelak cucunya masih bisa menyaksikan keindahan burung parotia yang memiliki suara yang nyaring dari dalam hutan kampung Minggrei, seakan mengundang kita untuk ke sana dan menyaksikannya secara langsung.
Wabah Semasa Shakespeare
Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di...

