Recent Blog post
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di Stratford-upon-Avon, John Bretchgirdle, mencatat pembaptisan seorang bernama “Gulielmus filius Johannes Shakspere.”
Beberapa bulan kemudian dalam daftar yang sama, vikaris mencatat kematian Oliver Gunne, seorang penenun. Dia menuliskan kata-kata "hic incipit pestis", yang bermakna "di sini mulai wabah".
Pada tahun-tahun itu epidemi merenggut nyawa sekitar seperlima dari populasi kota London. Untungnya, nyawa bayi bernama William Shakespeare dan keluarganya terselamatkan.
Wabah seperti itu tidak mengamuk selamanya. Dengan bantuan karantina yang ketat dan perubahan cuaca, epidemi perlahan-lahan berkurang, seperti yang terjadi di Stratford. Kehidupan pun kembali seperti semula.
Namun, selang beberapa tahun, di kota-kota besar dan kecil di seluruh dunia, wabah pes kelak kembali. Biasanya muncul dengan sedikit atau tanpa peringatan, dan celakanya sangat menular.
Nationalgeographic.co.id—Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di Stratford-upon-Avon, John Bretchgirdle, mencatat pembaptisan seorang bernama “Gulielmus filius Johannes Shakspere.”
Beberapa bulan kemudian dalam daftar yang sama, vikaris mencatat kematian Oliver Gunne, seorang penenun. Dia menuliskan kata-kata "hic incipit pestis", yang bermakna "di sini mulai wabah".
Pada tahun-tahun itu epidemi merenggut nyawa sekitar seperlima dari populasi kota London. Untungnya, nyawa bayi bernama William Shakespeare dan keluarganya terselamatkan.
Wabah seperti itu tidak mengamuk selamanya. Dengan bantuan karantina yang ketat dan perubahan cuaca, epidemi perlahan-lahan berkurang, seperti yang terjadi di Stratford. Kehidupan pun kembali seperti semula.
Namun, selang beberapa tahun, di kota-kota besar dan kecil di seluruh dunia, wabah pes kelak kembali. Biasanya muncul dengan sedikit atau tanpa peringatan, dan celakanya sangat menular.
Korban akan terbangun karena demam dan kedinginan. Perasaan sangat lemah atau letih, diare, muntah, pendarahan dari mulut, hidung, atau dubur. Juga, tanda-tanda bubo atau pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan atau ketiak. Kematian hampir pasti mengikuti setelahnya.
Shakespeare harus bergulat sepanjang karirnya dengan wabah penyakit yang parah sepanjang 1582, 1592-93, 1603-04, 1606, dan 1608-09.
Sejarawan teater J. Leeds Barroll III dalam majalah The New Yorker, mengungkapkan bahwa pada kisaran 1606 dan 1610, gedung teater London tidak buka selama lebih dari sembilan bulan. Dan, pada periode inilah Shakespeare menulis dan menghasilkan beberapa drama termasyhurnya dari Macbeth, Antony and Cleopatra, The Winter's Tale, dan The Tempest.
Namun demikian, ada perkara yang menarik. Dalam drama dan puisinya, Shakespeare hampir tidak pernah secara langsung mengungkapkan kehadiran wabah itu. Seperti Thomas Nashe, sastrawan sezaman, membuat A Litany in Time of Plague.
Dalam karya Shakespeare, penyakit epidemi sebagian besar muncul dalam pidato tokoh-tokohnya dengan ungkapan metaforis tentang amarah dan jijik. Metafora tentang wabah itu muncul di seluruh karya Shakespeare dalam bentuk seruan sehari-hari.
Wabah diterima sebagai bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan. Wabah muncul juga dalam bentuk efek komik, seperti ketika Beatrice mengolok-olok Benediktus dalam karya bertajuk Much Ado About Nothing:
"Ya Tuhan! Dia akan menggantungnya seperti penyakit. Dia lebih cepat tertangkap daripada wabah penyakit, dan pencuri berjalan sekarang gila. Tuhan tolong yang mulia Claudio. Jika dia telah menangkap Benediktus, itu akan menghabiskan biaya seribu pound sebelum sembuh."
Wabah sebagai peristiwa aktual hanya menonjol di salah satu drama Shakespeare. Friar Laurence, dalam Romeo and Juliet, telah meminta seorang rekan biarawan untuk menyampaikan pesan penting kepada Romeo di pengasingan di Mantua, memberitahukan kepadanya tentang obat pintar yang akan membuat Juliet tampak telah mati. Dalam beberapa baris, kurir menyampaikan banyak informasi, jauh lebih dari sekadar diperlukan untuk persyaratan plot:
"Akan menemukan saudara bertelanjang kaki keluar,
Salah satu pesanan kami, untuk mengaitkan saya,
Di sini, di kota ini mengunjungi orang sakit,
Dan menemukannya, para pencari kota,
Curiga bahwa kami berdua ada di rumah
Di mana wabah menular memang memerintah,
Menutup pintu dan tidak akan membiarkan kita keluar,
Sehingga kecepatan saya ke Mantua tetap ada."
Shakespeare tampaknya telah berbagi skeptisisme Nashe bahwa akan ada solusi medis untuk wabah itu. Dan dari apa yang kita ketahui tentang ilmu pada masanya, pesimisme ini dibenarkan.
Dia memusatkan perhatiannya pada wabah yang berbeda, wabah diperintah oleh seorang pemimpin yang ulet, bangkrut secara moral, tidak kompeten, berlumuran darah, dan akhirnya merusak diri sendiri.
Wabah Semasa Shakespeare
Rusmin Tumanggor menceritakan pengalamannya ketika dia pergi ke Barus, "Ketika saya pergi ke Barus, jika ada orang yang sedang sakit, anggota keluarga orang itu akan membawanya ke dukun terlebih dahulu. Namun, jika sudah mencapai sebuah kondisi tertentu orang tersebut baru akan mereka bawa Puskesmas". Menurut Rusmin, di sana Puskesmas hanya menjadi alternatif saja, sedangkan dukun adalah pilihan utama bagi masyarakat. Rusmin Tumanggor merupakan seorang guru besar dalam bidang antropologi dai Universitas islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dalam sebuah diskusi santai yang berlangsung di Jalan Sabang, di daerah jakarta Pusat, Rusmin menceritakan tentang sebuah penelitian yang dia lakukan pada 25 tahun yang lalu. Dia meneliti tentang sebuah sistem kerpercayaan yang telah menjadi budaya dan memasuki budaya pengobatan secara tradisional di Barus.
Rusmin menemui para datu, sebutan bagi para dukun dan menemukan ratusan mantra jampi yang berhubungan dengan kepercayaan animisme dan juga dinamisme. Barus adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir barat Sumtera, lebih tepatnya di Tapanuli bagian tengah. Dari riwayat catatan perdagangan, kawasan ini selama berabad-abad menjadi penghasil kamper atau kapur barus. Hingga saat ini, pohon kapur atau bisa juga disebut Dryobalanops aromatica yang mampu menghasilkan kamper masih tumbuh di Aceh Singkil, Subulussalam, serta Tapanuli Tengah. Barus muncul pertama kali dalam sebuah cerita "Tabula Asiae XI" yang merupakan karya kartografer dari Ptolomaeus pada tahun 160 Masehi. Cerita tersebut kemudian diproduksi serta dipublikasikan ulang dalam bentuk sebuah peta oleh Sebastian Munster sekitar tahun 1550. Peta ini merupakan peta tertua yang menggambarkan kelima pulau Baruffae Anthropophagi.
Rusmin mengingatkan, jika kapur barus yang dimaksud adalah kapur yang berupa kristal keputih-putihan yang ada pada celah lapisan-lapisan kayu yang sudah berusia lebih dari 50 tahun lamanya. Bukan kapur barus yang biasanya dijual di minimarket, yang berbahan sintetik. Dalam dosis yang tepat, kapur ini mampu menghilangkan bau jenazah serta dapat diminum untuk mengobati berbagai penyakit seperti asam lambung, usus halus dan perut buncit. Kapur ini juga dapat meningkatkan temperatur tubuh dan mampu mengusir serangga yang ada di lingkungan tempat kita tinggal. Menurut Rusmin, kapur barus sudah diperdagangkan di kawasan timur tengah sebelum Nabi Muhammad menyebarkan Agama Islam. Dalam sebuah buku karya dari Ptolomaeus yang merupakan seorang ilmuwan dari Mesir menyebutkan jika kelima pulau Barussie Anthropophagi berada di antara pulau-pulau Timur Jauh. Sepertinya Ptolomaeus sudah mendengar kabar angin yang dibawa oleh para penjelajah samudra jika Barus ditinggali oleh para manusia kanibal.
Bahkan, beberapa dari kumpulan naskah Mesir pada abad ke 12 menceritakan jika kota ini memiliki beberapa gereja Kristen Nestorian dan memiliki sebuah gereja Katolik. Ada dua catatan dari para penjelajah Portugis yang mengisahkan pusat perdagangan di Barus. Di bagian pesisir barat Sumatera memiliki banyak sejarah dan juga keragaman latar budaya. Rusmin mengatakan jika kawasan ini pernah menjadi pintu masuk agama-agama untuk disebarkan di seluruh Nusantara. Rusmin menemukan beberapa kepercayaan yang menjadi dasar dalam mantra dan jampi di Barus dari bahasa yang digunakan. Mantra yang dicampur dengan doa agama Islam banyak ditemui di Barus dan juga kawasan Nusantara lainnya. Akan tetapi, Rusmin juga menemukan mantra yang telah dipengaruhi bahasa Tiongkok dan juga bahasa Ibrani. Mantra yang diawali dengan "hong " dan diakhiri dengan "hah" menurut Rusmin dipengaruhi dari kepercayaan asal Tiongkok.
Sebelumnya, para ahli arkeologi dari Indonesia dan Prancis sudah meneliti Barus pada 1980-an sampai 1990-an. Dalam buku yang bertajuk Barus Seribu Tahun yang lalu, mereka menemukan sebuah struktur benteng kota dan ribuan pecahan tembikar yang berasal dari Timur Tengah, Asia Selatan, bahkan Cina. Dari temuan itu para ahli tersebut menyatakan jika hunian kuno Barus dimulai sekitar pertengahan pada abad ke sembilan hingga abad ke 12. Para ahli juga mengungkap rute palayan baru pada masa itu ketika zaman Kekhalifahan Fatimiyah yang menghubungkan Timur Tengan dengan Barus. Kamper pernah begitu melimpah di Barus dan banyak para penjelajah serta pemburu rempah telah mencatat kristal-kristal putih itu.
di Balik Mantra Misterius dari Barus
Ribuan tahun lalu di wilayah antara sungai Tigris dan Efrat yang saat ini dikenal sebagai Irak Selatan, bangsa Sumeria kun mulai berkembang. Menurut seorang sejarawan, Samuel Noah Krammer mengatakan jika bangsa Sumeria telah membangun peradaban dengan teknologi yang cukup mutakhir pada jaman itu. Menurut Krammer, bangsa Sumeria memiliki bakat yang tidak biasa, mereka mampu membuat teknologi yang tidak biasa. Orang Yunani kemudian memanggil bangsa Sumeria sebagai Mesopotamia karena mereka berhasil menciptakan teknologi baru dan digunakan dalam skala yang besar. Mereka mampu mengubah cara mengolah makanan, membuat tempat tinggal, berkomunikasi serta melacak informasi dan juga waktu.
Kramer menulis jika ada sesuatu dalam jati diri bangsa Sumeria yang memberikan dorongan pada mereka untuk memiliki mimpi yang besar dan berpikir dengan cerdik. Bangsa Sumeria memberikan tekanan yang begitu besar untuk berambisi dan meraih kesuksesan, keunggulan, martabat dan pengakuan dari bangsa lain secara spiritual dan psikologis. Secara bertahap, inovasi yang diciptakan oleh bangsa Sumeria menyebar pada perkembangan dunia modern berteknologi maju hingga saat ini. Berikut ini ada beberapa penemuan yang berhasil diciptakan oleh bangsa Sumeria dan dampaknya dapat kita rasakan hingga saat ini :
1. Tembikar
Jaman dulu orang-orang membuat tembikar dengan menggunakan tangan. Namun, bangsa Sumeria berhasil menciptakan roda belok yang merupakan sebuah alat untuk memproduksi tembikar secara massal. Menurut Reed Goodman yang merupakan seorang kandidat doktor dalam bidang seni dan arkeologi kawasan Mediterania mengatakan jika alat itu roda belok yang mereka ciptakan memungkinkan untuk memproduksi wadah untuk ransum pekerja dalam jumlah yang begitu besar, ini merupakan pelopor kuno dari Tupperware.
2. Tulisan
Walaupun tidak sepenuhnya akurat jika bangsa Sumerialah yang pertama kali mengembangkan sistem penulisan, namun sudah jelas dalam sejarah yang tercatat jika bangsa ini telah berkomunikasi dengan menggunakan tulisan pada 2800 SM. Bangsa Sumeria tidak menggunakan tulisan untuk mencatat sejarah, mereka menggunakan tulisan untuk melacak atau mencatat barang yang telah mereka buat dan mereka jual. Dalam buku berjudul 'World History Societies of The Past', mengatakan jika bangsa Sumeria menulis dengan menggunakan sistem piktograf yang dasarnya adalah gambar dari berbagai objek. Akan tetapi, pada akhirnya mereka menggabungkan sistem piktograf itu untuk mengeluarkan gagasan serta tindakan untuk diekpresikan. Kemudian setelah itu piktograf menjadi simbol yang akan mewakili kata dan suara.
3. Teknik hidrolik
Bangsa Sumeria bahkan menemukan cara agar bisa mengumpulkan dan menyalurkan limpahan dari sungai Tigris dan Efrat, kemudian memanfaatkannya untuk menyirami ladang dan pertanian mereka agar bisa tumbuh subur. Mereka berhasil membuat sistem kanal yang rumit dengan menggunakan bendungan yang dibangun dari alang-alang, batang dari pohon palem dan pintu gerbang dari lumpur yang dapat dibuka atau ditutup agar bisa mengatur aliran airnya.
4. Pabrik tekstil
Mengumpulkan wol dan menggunakannya untuk menenun kain agar menjadi pakaian merupakan sebuah budaya di Timur Tengah pada waktu itu, namun bangsa Sumeria menjadi yang pertama melakukan pada skala industri. Bangsa Sumeria mengubah kuil mereka menjadi sebuah pabrik yang besar, hal itu merupakan sebuah inovasi yang sangat mengejutkan pada waktu itu. Goodman juga menjelaskan jika bangsa Sumeria juga menjadi bangsa yang pertama kali berhasil membentuk sebuah organisasi kerja yang lebih besar dan membuat tekstil dan menjadi cikal-bakal dari perusahaan manufaktur modern.
5. Produksi massal batu bata
Untuk bisa mengatasi masalah kekurangan batu dan kayu sebagai bahan untuk membangun sebuah rumah dan kuil, bangsa Sumeria menciptakan sebuah cetakan agar bisa membuat batu bata dari tanah liat untuk sekala yang besar.
6. Matematika
Dulu orang-orang menghitung dengan menggunakan metode yang sederhana seperti meletakkan sebuah takik pada tulang. Namun, bangsa Sumeria berhasil mengembangkan sebuah sistem penomoran formal berdasarkan unit 60. Hal ini tertulis dalam sebuah buku yang berjudul 'Groundbreaking Scientific Experiments, Inventions, and Discoveries of the Ancient World'. Awalnya, bangsa Sumeria menggunakan bulu untuk berhitung, tapi kemudian mereka menggunakan tanda vertikal pada tablet yang terbuat dari tanah liat. Sistem yang mereka temukan ini membantu terciptanya dasar untuk perhitungan matematika pada peradaban selanjutnya.
Peradaban Sumeria Kuno yang Mengubah Dunia
Pada saat wabah 'The Great Plague' melanda kota London, Isaac Newton baru berusia 20 tahun. Waktu itu dia masih belum mendapatkan gelar "Sir" dan tidak memakai wig formal yang berwarna putih, serta terlihat formal. Newton masih menjadi seorang mahasiswa di Trinity College Cambridge, London pada waktu wabah itu menyebar. Newton mendapatkan gelar sarjana tepat saat wabah itu menyerang kota London pada tahun 1665 dan Universitas Cambridge ditutup pada 7 Agustus. Hal ini membuat para cendekiawan untuk mengungsi ke daerah pedesaan, di mana penduduknya tidak padat.
Newton kembali ke kampung halamannya di Woolsthrope Manor hingga akhir 1666 saat Universitas dibuka kembali. Pada saat itulah kejeniusan Newton mulai nampak, tulis dalam sebuah buku biografi yang dibuat oleh Philip Steele. Masa itu adalah masa paling produktif dalam hidup Newton bagi pengembangan ilmu optik, cahaya, kalkulus dan hukum gerak, serta hukum gravitasi. Meskipun Newton selalu berada di dalam rumah, dia tak pernah kehabisan akal. Dia selalu mencoba untuk memecahkan soal matematika yang diberikan kampus, dan saat itu menjadi awal mula dari kalkulus yang kita kenal saat ini.
Newton bereksperimen di kamarnya dan membuat lubang kecil hingga menghasilkan sinar cahaya matahari yang kecil masuk ke kamarnya, kemudian setelah itu dia terpikir untuk mengembangkan ilmu optik dan cahaya. Terdapat pohon apel di depan rumahnya, pohon tersebut adalah pohon legenda saat Newton menemukan teori gravitasi saat ada sebuah apel yang jatuh ke kepalanya. Meskipun banyak orang yang menganggap kisah itu diragukan keasliannya, namun menurut catatan yang ditulis John Conduitt kisah itu benar terjadi. Saat dia termenung memikirkan apel itu, terlintas di pikirannya jika gravitasi tidak terbatas dalam jarak tertentu. Gravitasi bisa meluas lebih jauh, mungkin setinggi bulan.
Menurut catatan kota dalam Britannica, The Great Plague berlangsung selama 1665 hingga 1666. Epidemi ini telah menyebabkan 68.596 orang meninggal dunia, walaupun jumlah kematian yang sebenarnya lebih dari 100.000 orang telah meninggal. Wabah ini dimulai di pinggiran kota London, yaitu St. Giles-in-the-Fields dan tempat padat penduduk yang didominasi oleh orang-orang miskin. Penderita wabah pertama ditemukan pada musim dingin tahun 1664, namun saat itu wabah ini belum menyebar secara intensif hingga pada musim semi tahun 1665. Akibat wabah ini, Raja Charles II dan keluarga kerajaan lainnya melarikan di dari kota London saat musim panas hingga Februari 1666.
Angka kematian mulai menurun menjelang akhir tahun Desember 1665, dan epidemi menghilang sepenuhnya pada 1667 di seluruh Inggris. Banyak yang berpendapat jika menurunnya wabah itu disebabkan oleh sebuah kebakaran hebat yang terjadi di kota London pada tahun 1666 dan proses karantina yang dilakukan oleh pemerintah kerajaan Inggris waktu itu sangat efektif.
Epidemi yang Menjadi Kelahiran Sains Modern
Setiap negara pasti memilik ekspor yang menjadi ciri khasnya, salah satunya contohnya adalah Denmark. Negara ini ciri khas ekspor seperti perabotan modern, bir, dan juga kue-kue yang enak. Namun, diantar semua itu ada salah satu ekspor yang sangat terkenal. Bahkan kita sudah mengenalnya saat kita kecil, mainan itu adalah LEGO yang telah menjual lebih dari 75 milliar bata plastik pada tahun 2016 lalu.
Dibalik kesuksesan LEGO yang merupakan salah satu mainan paling ikonik di dunia tidak lepas dari adanya peristiwa kebakaran dan kecerdasan seorang tukang kayu. Kisah ini dimulai dari sebuah toko kayu ddi Denmark. Ada seorang tukang kayu yang sederhana, namun dia memiliki ambisi yang begitu besar. Orang itu ada Ole Christiansen, dia orang yang gemar bermain dengan kayu untuk diubah menjadi mainan. Kemudian, dia mengubahnya menjadi sebuah bisnis dan membuka toko miliknya sendiri pada tahun 1916. Dia membuat furnitur seperti tangga, bangku, papan setrika dan lain-lain.
Pada tahun 1924, pria itu sukses dan dia ingin memperluas bisnisnya. Akan tetapi, putra-putranya secara tidak sengaja menyebabkan kebakaran karena menyalakan api di dekat serpihan kayu dan membuat toko serta rumah yang ditempati keluarganya habis terbakar. Kesialannya terus berlanjut dengan hancurnya saham Amerika yang terjadi pada tahun 1929 yang bahkan membuat dunia jatuh dalam jurang depresi. Dikarenakan pada saat itu Ole tertimpa bencana pribadi dengan meninggalnya sang istri pada tahun 1932 serta kondisi keungannya yang memburuk, dia terpaksa memecat beberapa stafnya dan berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya.
Pada saat itu, Ole membuat keputusan yang sangat sulit. Dia menggunakan kayu yang tersisa untuk dijadikan barang-barang murah yang bisa dia jual, diantarnya adalah mainan. Awalnya, keputusan tersebut tidak membuahkan hasil. Ole benar-benar terjerumus dalam kebangkrutan, tetapi dia tetap melanjutkan untuk membuat mainan dan menolak untuk menyerah. Dia sangat mencintai mainan sehingga mendorong perusahaannya maju. Bahkan, dia mengganti nama perusahaannya sebagai bentuk cerminan dari arah barunya menjadi LEGO. Dalam bahasa Denmark, Leg Godt artinya "bermain dengan baik" dan itulah arti dari nama baru perusahaannya. Perusahaannya pada saat itu membuat prototipe model mobil dan hewan. Mainannya yang menarik dan menggemaskan mendapatkan basis penggemar dalam skala nasional. Mainan bebek yang terbuat dari kayu yang paruhnya dapat terbuka dan tertutup saat ditarik, saat ini menjadi barang koleksi yang dicari oleh para kolektor.
Pabrik Ole sekali lagi terbakar pada tahun 1942 karena saat itu Jerman berhasil menduduki Denmark, hal itu sekali lagi mengancam perusahaannya. Namun untungnya pada saat itu perusahaan Ole sudah cukup mapan, sehingga mampu bangkit kembali dan terus maju. Ketika perang dunia berakhir, banyak perusahaan-perusahaan manufaktur tradisional yang kekurangan bahan dan material untuk produksinya. Pada saat itu, banyak produsen yang melihat plastik sebagai alternatif yang bagus dan murah untuk produksi. Ole berani mengambil resiko untuk membeli mesin cetak injek plastik pada tahun 1946 meskipun pada saat itu mesin tersebut dilarang, dan kemudian mulai membuat eksperimen dengan mainan yang dia sukai. Hingga pada akhirnya LEGI berhasil membuat mainan yang terbuat dari plastik yang kini disebut Bata Biding Otomatis di tahun 1949.
Mainan itu dibuat untuk pasukan sekutu sebagai bentuk penghormatan karena telah berhasil membebaskan Denmark dan mengakhiri perang Dunia ke II. Mainan itu terinspirasi dari satu set bata penguncian yang ditemukan oleh perusahaan inggris, yaitu Kiddicraft. LEGO akhirnya membeli hak cipta untuk desain itu pada tahun 1981. Setelah itu, Ole dan putranya memperbaiki desain mainan tersebut dan kemudian menjual produknya ke pasar. Pada tahun 1985 Ole meninggal dunia pada saat anaknya ingin menggunakan Automatic Binding Bricks sebagai dasar dalam bentuk sistem permainan LEGO. Dengan menggunakan prinsip setiap blok harus saling terkait satu sama lain, ini akan bisa meningkatkan potensi imajinatif anak-anak yang memainkannya dan meningkatkan penjualannya.
Sistem baru tersebut menjadi pondasi dari LEGO modern. Lima tahun kemudian, perusahaan tersebut kembali mengalami kesialan ketiga kalinya karena terjadi sebuah kebakaran yang membuat sebagian besar persediaan kayunya habis terbakar. Pada akhirnya, LEGO memutuskan untuk menghapus kayu untuk produksinya dan terus maju dengan menggunakan plastik sebagai bahan utama produksinya.
Kisah Menarik dari Mainan Masa Kecil
Nebkheperure Tutankhamun, dibaca 'Tuten amen amon' adalah Firaun dari Dinasti Kedelapan belas Mesir kuno, nama Tutankhamun boleh dibilang adalah yang paling dikenal masyarakat oleh masyarakat mesir. Dia juga dikenal dengan sebutan Raja Tut, penemuan makamnya benar-benar sangat luarbiasa karena banyak barang-barang berharga di dalamnya. Pada tahun 1922, Howard Carter menemukan makam Tutankhamun dan kemudian berita tersebut menyebar ke seluruh penjuru Mesir hingga akhirnya menjadi ikon Mesir Kuno. Namun, banyak orang tidak tahu tentang cerita dan sejarah hidupnya. Saat itu, Howard telah memicu intrik dan misteri tentang raja muda pada zaman Mesir Kuno. Banyak misteri dari kematian raja muda itu dan banyak sisi mistik yang dalam kematiannya.
Tutankhamun adalah anak dari Akhenaten yang merupakan suami dari Nefertiti yang diceritakan dalam legenda yang memiliki wajah yang cantik. Dia berkuasa pada tahun 1333 SM, pada usia sembilan atau sepuluh, dengan nama pemerintahan Tutankhamun. Dia diasuh oleh seorang wanita yang bernama Maia, hal ini diketahui dari penemuan makamnya yang terletak di Saqqara. Namun Tutankhamun sendiri bukan anak Akhenaten dan Nefertiti, dia merupakan anak hasil hubungan sang ayah dan adik kandungnya. Tutankhamun menikah dengan saudara tirinya yang bernama Ankhesenpaaten, yang saat ini dikenal dengan nama Ankhesenamun saat dia menjadi seorang raja. Tutankhamun memerintah mesir tidak terlalu lama karena dia meninggal di usia yang muda. Kematiannya menyisakan banyak misteri hingga saat ini.
Kematian dan juga kisah hidup Tutankhamun menjadi misteri. Kebijakan kontroversial yang dia buat adalah keputusan jika Mesir hanya akan menyembah satu dewa, yaitu Aten. Dulu, Mesir kuno memperbolehkan perkawinan sedarah, pernikahan sedarah adalah hal yang lazim, bahkan pernikahan antara orang tua dan anaknya. Detik-detik terakhir Raja Tutankhamun tidak tercatat sedikitpun. Penyebab kematian Tutankhamun masih menjadi perdebatan. Pada tes DNA dan pemindaian CT yang dilakukan menyatakan jika dia mengidap penyakit malaria. Ada sebuah keretakan dan sedikit cacat pada tulang kaki bawahnya, hal itu dipercaya karena efek dari perkawainan sedarah yang biasa dilakukan oleh para bangsawan mesir kuno. Beberapa orang berspekulasi jika Tutankhamun meninggal karena dibunuh, namun ada juga yang menyebutkan jika dia meninggal karena sebuah kecelakaan.
Di Mesir, hal-hal yang berhubungan dengan Mesir kuno sangat erat dengan hal mistis dan juga kutukan. Termasuk salah satunya adalah makam Tutankhamun. Bagi siapapun yang berani membuka makam Tutankhamun, maka dia akan dikutuk hingga mati. Tubuhnya digali pada saat masyarakat berupaya pulih dari dampak Perang Dunia I. Sebagian besar korban perang juga dikubur jauh dari rumah, tubuh mereka tidak pernah kembali. Banyak orang telah melupakan keberadaan Tutankhamun, hingga akhirnya pada tahun 1920 para arkeolog memulai penggalian pada makamnya. Makamnya dirampok setidaknya dua kali pada zaman kuno. Banyak orang yang berimajinasi tentang gambaran kehidupan raja Tutakhamun. Itu menghubungkan orang-orang ke tempat kuno. Lokasi makam itu hilang karena telah dikubur oleh kepingan batu dari makam setelahnya, entah karena disengaja atau karena disapu oleh banjir.
Misteri Raja Tutankhamun
Wabah Semasa Shakespeare
Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di...













